STIMIK AMIKOM YOGYAKARTA








Selasa, 26 Februari 2013

Adat Kebudayaan Suku Biak

Adat Dan Kebudayaan Suku Biak Papua




1. Bahasa Daerah
Adapun bahasa yang digunakan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat yang tersebar di 19 (sembilan belas) wilayah kecamatan/distrik di Kabupaten Biak Numfor adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Biak digunakan penduduk asli di 19 (sembilan belas) kecamatan/distrik yang sama, hanya dibedakan oleh dialek bahasa. Masyarakat Biak Numfor mempunyai potensi yang besar dalam sosial budaya seperti seni suara, seni ukir, adat-istiadat dan objek wisata yang dapati kembangkan sebagai daya tarik wisata bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

2. Rumah Adat
a. Rum Som
Rum Som merupakan rumah kehuarga luas yang didiami ayah dan ibu senior dengan anak laki-laki mereka yang sudah kawin. Disebut Rumsom sebab atapnya yang berbentuk kulit penyu, bagian depannya yang menjulur keluar memberi kesan “mengambang” karena tidak ditopang oleh tiang penyangga.

b. Rum Sram
Rum Sram adalah rumah pemuda. Rumah ini dibangun untuk menampung anak-anak lelaki yang sudah saatnya tidak boleh tidur bersama orang tuanya di dalam bilik keluarga di Rum Som (rumah keluarga).

3. Perahu Tradisional Biak
Terdapat 2 (dua) jenis perahu besar yang cukup terkenal di Biak Numfor yaitu “Manjur” (perahu dagang) dan “Wai roon” (perahu perang). Dengan perahu Mansusu orang Biak mengadakan penjelajahan jauh sampai ke Tidore dan Ternate serta Negara-negara asing lainnya. Dengan perahu Wai roon orang Biak mengadakan perang suku dengan suku-suku lain dan menangkap budak-budak.

4. Kesenian
a. Seni Musik Daerah
Musik tradisional Biak Numfor disebut Wor yaitu puisi Biak yang dinyanyikan dengan tangga nada pentatonik 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 5 (sol) dan 6 (la). Wor Biak tidak mengenal 4 (fa) dan 7 (si). Struktur puisi Wor terdiri dari 2 bait yang disebut Kadwor (puncak) dan Fuar (pangkal).
Tercatat sekitar 18 jenis lagu Wor Biak antara lain Kankarem, Moringkin, Kansyaru, Wonggei, Disner, Nambojaren, Erisam, Dow Arbur, Dow Mamun, Armis, Aurak, Dow Beyor Warn, Dow Bemun Warn, Kawop, Urere, Randan dan Beyuser.
Nyanian Wor biasanya diiringi alat music” Sireb” atau Sandip yakni alat musik Tifa.

b. Seni Ukir Daerah
Seni ukir daerah yang dengan gaya Karwamya, selama ini hanya menjadi penghuni museum luar negeri. Dengan munculnya seni ukir Asmat yang terkenal di dunia internasional, mendorong pengukir muda berbakat asal Biak kembali mengabdikan karya seni nenek moyang dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat adat Biak Numfor.

c. Seni Kerajinan Rakyat
Beberapa seni kerajinan rakyat Biak yang menonjol antara lain :
- Kerajinan kerang hias;
- Kerajinan anyam-anyaman;
- Pengrajinan lainnya.

5. Seni Tari Daerah
Di Kabupaten Biak Numfor, terdapat aneka tari daerah yang menarik dan memikat. Tari-tarian tersebut berupa Tari Kankarem (Tari Pembukaan), Tari Mamun (Tari Perang), Tari Akyaker (Tari Perkawinan) dan lain-lain yang diiringi dengan lagu-lagu wor Biak.
Disamping tari tradisional diatas, terdapat pula dua jenis tarian Biak versi baru yakni Tari Pancar dan Tari Mapia. Tari Pancar yang saat ini popular dengan nama Yospan (Yosimpancar) diciptakan sekitar awal tahun 1960-an oleh seniman Biak. Tarian ini tidak dikenal disaat terjadinya konfrotasi antara Belanda dan Indonesia soal Irian Barat ( Papua).
Tarian ini diiringi oleh lagu-lagu pancar diantonis yang menggunakan alat musik Gitar, Stringbass, dan Ukulele. Tari Mapia merupakan tari kreasi baru yang berasal dari pulau-pulau Mapia. Tarian ini diciptakan sekitar tahun 1920-an dan diperkenalkan ke Biak oleh orang-orang Kinmon, Saruf, dan Bariasba.

6. Upacara Tradisional Biak
Upacara tradisional Biak atau pesta adat Biak disebut Wor atau Munara, yang dilaksanakan untuk melindungi seorang individu yang beralih peran dari satu peran sosial sebelumnya ke peran sosial berikutnya.

Orang-orang tua Biak mengatakan “Nggo Wor Baindo Na Nggo Mar” (tanpa upacara/pesta adat kami akan mati). Dengan demikian, maka dalam segala aspek kehidupan sosial suku Biak selalu diwarnai dengan upacara adat.

Jenis upacara adat Biak yang dapat diurutkan sebagai berikut :
- Munara Kafko Ibui, Kinsasor (Menembak dengan anak panah dan busur);
- Munara Sababu (upacara membawa turun);
- Munara Famamar (upacara mengenakan cawat (marj), dan sraikir kneram (melubangi telinga);
- Munara Panani Sampar (mengenakan manset yang dibuat dari kulit kerang);
- Munara Kapapknik (upacara cukur rambut);
- Munara Sraikir Snonikor (upacara melubangi sekat hidung);
- Munara Pananai Mansorandak (mencuci muka, dengan didahului dengan busur yang dibentang);
- Munara Kabor-Insos (wor kapakpok);
- Karindanauw (upacara pertunangan);
- Munara Yakyaker Farbakbuk ( upacara perkawinan);
- Worak atau Wor Mamun (upacara perang);
- Kafkofer Afer atau Afer (melemparkan kapur = mengikat perdamaian);
- Wor saso atau Myow Rum Babo (tarian pencobaan untuk rumah baru);
- Kankanes Ayob atau Munabai (ratapan untuk mati);
- Farbabei (menyematkan atau menggantungkan tanda mata);
- Panamnomes Romawi (penghancuran warisan);
- S’panggung Bemarya (orang membungkus mayat);
- S’erak I (pemakaman di tepi karang);
- Wor Ras Rus (menggali tulang orang mati untuk dikuburkan kembali);
- Worwarek Marandan (melindungi sanak saudara yang sedang dalam perjalanan dengan nyanyian).;
- Wor FAN NANGGI (upacara memberi makan kepada langit);
- Wor Fayakyik Robena (menunjukkan seorang anak muda kepada barang barang milik);
- Wor Manibob (pada kesempatan menerima seorang teman dagang);
- Wor fafyafer Membesorandak (upacara cara untuk seorang pemuda yang untuk pertama kali tiba di suatu tempat);
- Worm Mon (upaca yang dipakai untuk dukun atau saman);
- Wor Koreri;
- Kinsasor (meramal divination);
- Wor Sabsibert.
{ Read More }


Kehidupan Suku KOROWAI & KOMBAI


Kehidupan Suku Korowai & Kombai Di Irian Jaya





Ok, kali ini kita akan mengintip sedikit kehidupan suku pedalaman daerah papua sana bro, tentang cara bertahan hidup, membuat rumah di atas pohon, sampai mencari makanan di dalam hutan.Khususnya di Daerah Pedalaman Merauke,Papua

Kembali pada tahun 1995, George Steinmetz, seorang fotografer pemenang penghargaan mendokumentasikan suku orang-orang yang tinggal di pohon di Irian Jaya. Mereka sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengan orang asing dan mereka tidak mengenal bahasa mereka hanya memakai bahasa suku saja.

Ini adalah gambar yang indah menakjubkan dari suku Kombai dan Korowai yang tinggal di rumah pohon yang berdiri tegak diatas rumah tersebut telah dipahat dari hasil hutan yang ada di sekitar.

Suku Korowai dan Kombai tinggal di wilayah Indonesia dan sudah pasti mereka juga penduduk Indonesia. Namun sangat jarang ditemukan literatur mengenai mereka dalam bahasa Indonesia. Justru banyak peneliti asing yang mengunjungi mereka dan mempelajari kehidupan suku mereka yang unik.

Korowai adalah salah satu suku di Irian yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasuk-paksa-kan penis mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun. Sementara kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari daun sgu. Sagu adalah makan utama mereka.

Sedangkan pria Suku Kombai menggunakan ‘koteka’ dari paruh burung besar. Senjata mereka adalah panah yang matanya terbuat dari tulang.

Mereka hidup sangat bersahaja di dunianya. Entah mereka mengenal tidak siapa presiden mereka. Apa yang dilakukan capres-capres dengan segunung janji dalam kampanye mereka sekarang ini. Siapa Manohara. Apa isi email Prita. Siapa Michael Jackson. Mungkin mereka bahkan tidak perlu tahu. Di sini waktu seperti terhenti.

Sowayen turun dari pohon setelah mengambil sarang semut untuk menangkap ikan Papua Barat Indonesia.


Sebuah pesta grub sagu diatur untuk salah satu kelompok pertama wisatawan untuk memasuki negara Korowai.



Ini adalah rumah yang berada di atas pohon. Korowai Papua Barat



Pada gambar dibawah sedang mencari larva kumbang pohon jagung untuk dijadikan sagu, makanan favorit mereka.



ini adalah pemandangan anak sungai dari Sungai Korowai memasuki Sungai Eilanden.



Lumbareh sedang membuat panah di rumah pohon-nya untuk mencari makanan di hutan.



Wanita Korowai sedang mengolahan bubuk sagu kelapa di pelepah pisang untuk dijadikan makanan pokok bertepung alias sagu dan ini sering dilakukan mengingat di papua belum ada beras.



Rumah pohon Korowai di malam hari.




{ Read More }


Minggu, 24 Februari 2013

Mengenal Sejarah Suku "KAMORO"


Sejarah Suku "KAMORO"
Kabupaten Mimika awalnya bernama Kaukanao, yang mana ‘kauka’ berarti perempuan dan ‘nao’ berarti bunuh. Munculnya kata Kaukanao sendiri berasal dari Perang Hongi, dimana semua perempuan harus dibunuh.
            Kabupaten ini dibentuk pada tanggal 8 Oktober 1996. Setelah selama tiga tahun berstatus administratif. Mimika secara resmi menjadi kabupaten definitif pada awal tahun 2000. Dengan perubahan ini maka Mimika diharapkan dapat tumbuh berkembang dengan kekuatannya sendiri seperti daerah lainnya.
Sepanjang laporan penelitian para informan dan berbagai laporan, tidak ada arti yang jelas mengenai kata Kamoro, namun berdasarkan cerita yang diperoleh bahwa kata Kamoro berasal dari hewan atau binatang komodo. Oleh karena itu, menurut masyarakat Kamoro, mereka berasal dari daging hewan yang dibunuh dan dipenggal-penggal oleh nenek moyang mereka dan kemudian daging tersebut berubah wujud menjadi orang Kamoro. Ada versi lain, hukum adat Kamoro mulanya berasal dari Udik Sungai Kamoro, yang kemudian menyebar luas memenuhi sepanjang pantai Barat Daya Irian Jaya, yaitu Potowaiburu hingga ke sungai Otakwa.
Asal-usul suku Kamoro memiliki cerita sendiri-sendiri dari tiap-tiap kampung. Ada cerita yang sempat dicopy oleh Stefanus Rahangiar(1995), yaitu salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai Binar di bagian Timur daerah Mimika. Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak kecil di tepi pantai. Kemudian sianak membawa kerumahnya. Telur  tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak, malahan sianak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian telur  tersebut menetas. Tetasan tersebut adalah seekor Komodo . Hari kehari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah hamil.  
Setelah penduduk itu habis dimakan, Komodo itu beristirahat di sebuah pulau dengan Sungai Binar. Pada saat itu, Ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut mendengar cerita dari Ibunya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau. Dalam upaya membunuh hewan Komodo, Mbirokateyau mendapat petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian darat. Rumah pertama(Kewa Kame), rumah kedua(Tauri Kame), rumah ketiga(Kaware Kame) dan rumah keempat(Ema Kame). Rumah keempat ditempati oleh Ibunya dan rumah pertama ditempati oleh sianak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada Komodo tersebut, yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi disekitarnya. Situasi ini mengundang Komodo ini menyerang rumah tersebut. Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk menghujani tubuh hewanlah yang telah  menyelamatkan sianak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan akhirnya Komodo ini mati terimpa alat-alat perang. Kemudian sianak memotong dagingnya menjadi empat bagian dengan ukuran yang sama besar dan melemparkannya ke empat penjuru mata angin. Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya telah menjadi orang Asmat di Merauke. Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhirnya menjadi suku Sempan di Timika.
Ada juga cerita lain menurut Bapak Frans Moperteyau yang berasal dari Keakwa yang menyatakan bahwa orang Kamoro mula-mula bertempat tinggal di pulau yang bernama Nawapinaro yang terletak dibagian timur daerah Mimika. Suatu saat dilaksanakan pesta adat Karapao adalah tauri yang merupakan pesta inisiasi bagi anak-anak yang hendak memasuki masa remaja(dewasa). Menurut adat yang mengikuti pesta harus memiliki orang tua dan sanak saudara sebagaimana syarat-syarat pesta adat tersebut. Daiantara orang-orang itu, ada 2 orang kaka beradik yaitu Aweyau dan Mimiareyau, yang hidup dalam pemeliharaan wali orang tuanya. Sehingga mereka tidak diperkenankan mengikuti pesta adat tersebut. Mereka tersisih dari teman sebayanya. Perasaan ini menimbulkan rasa cemburu dan muncul ide untuk membuat keributan pada saat pesta berlangsung. Mereka berdua mengenakan topeng setan untuk menakut-nakuti orang yang sedang berpesta. Peserta pesta adat yang melihat itu, kemudian melarikan diri menuju arah barat dengan menggunakan perahu, kemudian menempati sungai-sungai yang kini merupakan daerah Mimika dari bagian timur hingga ke bagian barat jauh yang sekarang sudah menjadi batas wilayah Kamoro.

C.   Pola Hidup Suku Kamoro
Orang Kamoro memiliki ciri-ciri fisik seperti, wanita dan pria rata-rata memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap karena keadaan alam (di pesisir pantai), warna kulit hitam, hidung mancung dan rambut keriting.

>      Mata Pencaharian
Orang Kamoro tidak mengenal sistem pertanian sehingga mereka kembali kepada kehidupan mereka sebagai nelayan dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain (nomaden). Mereka memiliki semboyan, yaitu 3S(sungai,sampan,sagu). Sungai merupakan salah satu arus utama aktivitas suku Kamoro, sehingga mereka membutuhkan sampan untuk melakukan aktifitas sehari-hari.
Rasa sosial yang begitu kuat, membuat masyarakat Kamoro selalu berbagi dengan sesamanya. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kamoro sehari-hari, mereka  biasanya melakukan aktivitas seperti :
-       Memangkur sagu (amata wapuru)
-       Melaut (menangkap hasil laut)
-       meramu

>        Makanan Khas
Berbagai makanan khas masyarakat Suku Kamoro antara lain adalah sebagai berikut :
-           Tambelo (ko)
-           Sagu (amata)





 Ulat sagu (koo)
-          






-           Siput (omoko)
-           Karaka










> Agama
      Pada awalnya, orang Kamoro menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Namun setelah masuknya agama Katolik pada tahun 1928 yang dibawa oleh seorang pastor, masyarakat Kamoro mulai mengenal agama. Oleh sebab itu, sebagian besar masyarakat Kamoro memeluk agama Kristen Katolik dan sebagian kecilnya menganut agama Kristen Protestan, tetapi ada juga masyarakat yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme dan hal itu masih berlanjut hingga saat ini.

D.   Adat Istiadat Suku Kamoro
Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Demikian halnya, dengan masyarakat suku Kamoro. Perkawinan mempunyai arti yang sangat mendalam, tidak hanya bagi individu yang kawin, tetapi juga lebih dari itu menyangkut harga diri, kehormatan, martabat keluarga atau kerabat. Karena itu, perkawinan tidak lepas dari peranan keluarga atau kerabat.
Ketentuan-ketentuan adat perkawinan yang dimaksud mencakup hal-hal seperti :



>    Larangan Perkawinan
            Larangan perkawinan secara adat terdapat perbedaan-perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Larangan perkawinan pada orang Kamoro adalah sebagai berikut :
ü  Karena hubungan darah
Seorang laki-laki dilarang memilih pasangan atau kawin dengan                                                   perempuan yang masih mempunyai hubungan darah.
ü  Karena melangkahi saudara yang lebih tua
Seseorang dilarang kawin (baik laki-laki maupun perempuan), apabila ada saudaranya yang lebih tua dari pihak laki-laki maupun perempuan yang belum menikah.

>    Mas kawin
            Mas kawin adalah sejumlah barang-barang perkawinan yang diminta oleh pihak keluarga perempuan kepada pihak keluarga laki-laki guna kelangsungan suatu perkawinan. Pada orang Kamoro mas kawin mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkawinan, karena mas kawin merupakan suatu syarat mutlak yang harus ada nilai guna kelangsungan perkawinan. Adapun benda-benda yang digunakan sebagai mas kawin adalah sebagai berikut :
-             Perahu
-             Kampak, parang (alat-alat kebun)
-             Piring, kain
-             Uang

c.    Syarat-syarat perkawinan
-             Kematangan jasmaniah dan rohaniah
-             Kesiapan harta
-             Izin orang tua
-             Memperhatikan larangan-larangan perkawinan

d.    Upacara Adat
-                Upacara Pendewasaan (inisiasi) atau Upacara Karapao
-                Upacara Penobatan Kepala Suku
-                Upacara Pembuatan Mbitoro
E.   Seni Budaya Tradisional Suku Kamoro
  Adapun beberapa jenis seni budaya yang dimiliki oleh suku kamoro adalah sebagai berikut :

1.    Seni bangunan rumah
      Suku kamoro mempunyai beberapa bentuk rumah tradisional, yang diberi nama antara lain :
·         KAPIRI KAME
             Kapiri adalah alat penutup rumah (atap) yang menjadi rumah tradisional suku kamoro. Kapiri dibuat dari daun pandan hutan yang kuat, lebar dan panjang. Meskipun begitu sekarang ini suku kamoro tidak lagi (jarang sekali) menempati kapiri kame, mereka sudah membangun rumah yang permanen dengan memanfaatkan gaba-gaba (pelepah sagu) sebagai dinding dan daun seng sebagai atapnya. Banyak bentuk dari kapiri misalnya :
a.        Karapauw Kame
b.        Tauri Kame
c.        Kaota kame
d.        Kapiri Kame, dan lain-lain

2.    Seni Ukir
Suku kamoro mempunyai seni ukir yang cukup tinggi nilainya.
Motif-motif seni ukir suku kamoro didasarkan pada pengalaman sejarah masa lalu.
Pengalaman sejarah yang dialaminya diekspresikan dalam bentuk seni ukir yang indah dan mempunyai makna ritual. Jenis-jenis seni ukir suku Kamoro antara lain :

a.    Mbitoro
Mbitoro adalah ukir-ukiran khas suku Kamoro yang menjadi dasar dari jenis ukir-ukiran.

·         Kerangka Mbitoro
Ø  Uema ( ruas tulang belakang)
Ø  Uturu tani (awan putih berarak)
Ø  Wake biki (ekor kuskus pohon)
Ø  Oke mbare (lidah biawak)
Ø  Upau (kepala manusia)
Ø  Apakou upau (kepala ular)
Ø  Ereka kenemu (insang ikan)
Ø  Ema (tulang ikan)
Ø  Utu wau (tempat api atau perapian)



b.    Ote Kapa (tongkat)
            Ote kapa adalah seni ukir yang berbentuk tongkat dan biasanya di gunakan oleh orang yang sudah lanjut usia. Ada 5 motif ukiran ote kapa yaitu :
·         Tako ema (tulang sayap kelelawar)
·         Ereka waititi (sirip ikan)
·         Uema (ruas tulang belakang)
·         Upau (kepala manusia)

c.    Pekaro (Piring Makan)
Pekaro dibuat dari jenis kayu yang ringan sehingga mudah dibawa pada saat berkapiri.
·         Kerangka Pekaro :
Ø  Komai mbiriti (kepala burung enggang/paru burung enggang)
Ø  Tempat makanan yang berbentuk bulat telur
Ø  Mbiamu Upau (kepala kura-kura)

d.    Yamate (perisai)
Yamate adalah seni ukir yang dibuat dari beberapa tingkat sesuai dengan tingkat tinggi orang yang memakainya. Biasanya dibuat empat tingkat yang semuanya bermotif bagian- bagian tubuh buaya.
a.    Kapiri (tikar)
b.    Imi (jaring)
c.    Etahema (noken)
d.    Omotere (tikar pandan)

3.    Seni Suara dan Seni Tari Suku Kamoro
Menurut legenda lama adat kebudayaan suku Kamoro berasal dari dalam tanah dan air. Konon ceritanya nenek moyang suku Kamoro hanya memberikan alat-alat kebudayaan dan tidak mewariskan alat pertanian, sehingga suku kamoro lebih pandai bermain musik dari pada mengolah tanah.
Seni tari dan seni suara oleh suku Kamoro dijadikan sebagai bahan media dalam berbagai pesta untuk segala kepentingan. Orang yang memiliki keahlian menyusun syair dan mendendangkannya disebut “bakipiare”. Bakipiare sangat peka dalam memperoleh ilham dari keadaan alam sekitarnya. Ilham yang diterimanya kemudian diimajinasikan dan diekspresikan dalam bentuk syair lagu.
Syair lagu itu kemudian dilagukan dengan ditimpa oleh bunyi tifa yang lembut dan kadang-kadang menyentak iramanya. Jika irama lagu menyentak, iramanya akan segera mendapat sambutan dari dnikiarawe (pengiring lagu), maupun jagwari pikara (penegas atau penutup lagu). Alat-alat musik yang digunakan adalah tifa (eme) dan kaiyaro (alat musik dari bambu). Kaiyaro ini biasa dibunyikan dalam pesta adat karapao.
Jenis tari suku Kamoro seperti :
·         Tari Seka
·         Tari Ular
·         Tari Mbitoro
Jenis seni suara (lagu) suku Kamoro seperti :
·         Tapare Mimika Iwoto
·         Korani
·         Nikya Yesus

4.    Pakaian
Pakaian adat atau tradisional suku kamoro dibuat dari kulit peura (sejenis pohon genemo) yang disebut waura. Waura digunakan untuk laki-laki yang dipakai sebagai cawat disebut tapena. Ada juga yang terbuat dari daun sagu yaitu tauri, mono dan piki. Tauri biasa digunakan oleh ibu-ibu. Mono yaitu daun sagu yang dikupas, ditumbuk, dicuci yang kemudian dipakai. Sedangkan piki biasa digunakan oleh bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak sebagai kain sarung.


{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot